Bab 2

Seorang pejabat kena dera; paman He Guo berkomplot untuk membunuh para kasim

----------

Halaman 14

 

Tong Zhuo alias Zhong Yin, lahir di Lin Tao (di sebelah barat Propinsi Gansu sekarang). Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintah di He Dong.

 

Tong Zhuo berwatak angkuh dan tinggi hati. Ketika ia memperlakukan Liu Bei bersaudara dengan penuh penghinaan, ia hampir dibunuh oleh Zhang Fei, tetapi dicegah oleh Liu Bei dan Guan Gong.

 

"Dia adalah pejabat negara," kata Liu Bei,"bagaimana mungkin kita mengadili dan membunuhnya?"

"Amat menjengkelkan kalau diperintah oleh jahanam macam itu, aku lebih suka membunuhnya. Kalian boleh tinggal disini sesuka kalian, tetapi aku akan mencari tempat lain."

"Kita bertiga telah bersumpah untuk sehidup semati, kenapa harus berpisah? Lebih baik kita pergi bersama-sama," jawab Xuande.

"Lega sudah hatiku mendengar jawaban ini," kata Zhang Fei.

 

Ketiganya bergegas berangkat, tanpa membuang waktu, sampai mereka tiba di tempat Zhu Jian.

 

 

Zhu Jian menyambut hangat kedatangan mereka, dan bersama-sama menyerang Zhang Bao.

 

Ketika itu Zao Cao telah bergabung dengan Huang Fusong, menggempur Zhang Liang, sehingga terjadilah pertempuran hebat di Qu Yang. Dalam waktu yang sama Zhang Bao juga diserang oleh Zhu Jian.

 

Pemberontak telah menempatkan 90.000 orang pasukannya di tempat strategis di belakang bukit. Zhu Jian memerintahkan Liu Bei sebagai barisan ujung tombak dalam menggempur pemberontak. Dari pihak pemberontak maju seorang wakil pemimpin, yang bernama Gao Sheng, untuk bertanding melawan Liu Bei. Tapi Liu Bei menyuruh Zhang Fei menyambutnya.

Bertanding beberapa jurus berhasil melukai Gao sehingga terjatuh

----------

Halaman 15

 

dari kuda. Dan pada saat itu pula, Xuande memerintahkan pasukan menyerang.

 

Zhang Bao dari atas kudanya, menggerai rambut, menggenggam pedang, dan membaca mantra.

 

Tiba-tiba, angin menderu, guntur menggelegar, disertai turunnya awan hitam menyelimuti lapangan. Dari balik awan tampak pasukan berkuda, tak terhitung banyaknya, menyerbu pasukan pemerintah. Mereka ketakutan. Liu Bei segera menarik mundur pasukannya, tetapi telah timbul kekacauan di tengah-tengah mereka sehingga mereka menderita kekalahan.

Setelah bergabung, Zhu Jian dan Liu Bei segera berunding. "Ia menggunakan kekuatan gaib," ujar Jian. "Besok, aku akan menyiapkan penangkalnya, yaitu darah babi, darah kambing, dan darah anjing. Darah ini akan dipercikkan dari atas tebing  oleh orang-orang kita yang bersembunyi,. Kita pasti berhasil memusnahkan kekuatan ilmu hitam mereka."

Semuanya pun disiapkan. Kedua saudara Liu Bei, masing-masing membawa 1.000 orang pasukan, menyembunyikan diri mereka di atas tebing di belakang bukit. Mereka menyediakan darah babi, darah kambing, dan darah anjing yang amat banyak, ditambah dengan benda-benda najis lainnya. Keesokan harinya, ketika pemberontak dengan panji-panji yang berkibar dan genderang perang datang menantang, Liu Bei maju menyambut mereka. Dalam waktu singkat kedua pasukan berhadapan kembali.

 

 

 

 

 

Zhang Bao membaca mantra, dan kembali terjadi seperti sehari sebelumnya. Pasir beterbangan seperti awan, kerikil tersapu, awan hitam memenuhi angkasa. Pasukan gaib turun dari angkasa.

Seperti telah direncanakan, Liu Bei membalik, lalu lari. Pemberontak mengejar, dan begitu mereka mendesak ke arah bukit, terdengar bunyi terompet, dan pasukan yang bersembunyi melakukan tugasnya. Segala najis dan darah disiramkan. Pasukan gaib berguguran ke bumi bagaikan koyakan kertas, angin berhenti berembus, guntur pun segera reda. Pasir dan kerikil merata di tanah.

Melihat kekuatan gaibnya punah, Zhang Bao lalu menarik mundur pasukannya. Tapi ia diserang dari kedua sisi oleh dua bersaudara Guan Gong dan Zhang Fei, sedangkan dari belakang oleh Liu Bei dan Zhu Jian. Liu Bei melihat dari jauh kibaran panji "Pangeran Bumi", segera menderap kudanya ke sana, tetapi hanya berhasil melukai lengan kiri "sang pangeran" dengan sebatang panah. Meskipun  terluka, Zhang Bao dapat melarikan diri ke Yang Cheng. Kota ini kemudian dikepung

----------

Halaman 16

 

rapat oleh Zhu Jian. Tak henti-hentinya kota digempur, hingga seorang bawahan Zhang Bao akhirnya justru membunuhnya. Kaum pemberontak menyerah dengan membawa kepalanya.

 


 

Sementara penyerbuan berlangsung, Zhu Jian mengirim utusan untuk mencari berita tentang Huang Fusong. Hasilnya amat menggembirakan. Huang Fusong memenangkan pertempuran sedangkan Tong Zhuo menderita kekalahan. Oleh sebab itu, Kaisar memerintahkan Huang menggantikan kedudukannya. Tapi Zhang Jiao mati sebelum Huang sampai ke tujuan. Zhang Liang kemudian menggabungkan pasukannya dengan pasukan Zhang Jiao, tetapi tidak berdaya untuk merebut kemenangan. Bahkan menderita 7 kali kekalahan  berturut-turut, dan terbunuh di Qu Yang.

Peti mati Zhang Jiao dibongkar, kepalanya dipenggal, dan dikirim ke ibukota untuk dipamerkan kepada masyarakat. Untuk jasa ini Huang Fusong dinaikkan pangkatnya menjadi jenderal kavaleri dan berkedudukan di Yi Zhou.

Ia tidak melupakan kawan-kawannya. Tindakannya yang pertama adalah membereskan kasus Lu Zhi, sehinggga Lu Zhi dikembalikan ke kedudukan semula dan namanya direhabilitasi. Zao Cao juga menerima anugerah untuk jasa-jasanya, dan segera bersiap menuju pos barunya di Qi Nan.

Tetapi sisa-sisa gerombolan masih belum punah. Tiga orang pemberontak bernama Chao Hong, Han Zhong dan Sun Zhong masih mengacau, dengan membunuh, merampok, dan membakar rumah penduduk. Mereka menyatakan bahwa mereka membalaskan dendam Zhang Jiao.

 

 

Kaisar memerintahkan Zhu Jian bersama pasukannya menumpas pemberontak itu. Ia segera berangkat ke Wan Cheng yang sedang diteror kaum pemberontak. Ketika ia tiba di sana, Han Zhong menghadang gerak pasukannya. Zhu Jian mengirim Liu Bei dan adik-adiknya untuk menyerbu dari arah barat daya kota.

Han Zhong memimpin orang-orangnya yang terbaik menyambut serangan itu. Zhu Jian sendiri memimpin 2.000 orang pasukan berkuda, menyerang sudut kota lainnya. Kaum pemberontak, yang mengira kota telah dapat direbut, segera meninggalkan sudut barat daya itu. Liu Bei mendesak mereka dengan gencar dari belakang, hingga mereka terceraiberai, dan sisanya bertahan di puing-pung kota. Zhu Jian membagi pasukan mengepung kota, dan ketika perbekalan sudah habis, Han Zhong mengirim utusan untuk menyerah, tetapi

----------

Halaman 17

 

permohonan mereka ditolak oleh Zhu Jian.

Liu Bei berkata,"Pendiri Dinasti Han akan menyambut tawaran tersebut, dan mengampuni mereka, mengapa Anda menolaknya?"

 

Liu Bang, pendiri Dinasti Han

"Kondisinya berbeda," jawab Zhu Jian. "Pada masa itu kekacauan melanda seluruh negeri. Rakyat tidak memiliki kepala negara yang pasti. Sehingga tawaran menyerahkan diri semacam itu akan diterima dengan tangan terbuka, untuk merangkul rakyat. Sekarang hanya ada satu penguasa, dan kaum serban kuning merupakan perongrong stabilitas negara. Bila kita terima mereka menyerah, maka kita tidak memberi dorongan yang baik bagi kekuasaan. Bila nasib baik ada pada mereka, mereka menjadi perampok. Sedangkan bila nasib sial menimpa, mereka menyerahkan diri. Dalam keadaan seperti ini, saran Anda bukanlah kebijaksaaan yang baik."

 

 

Liu Bei menjawab,"Menolak mereka menyerah memang keputusan yang benar. Tetapi kota saat ini dikepung bagaikan tong besi rapatnya. Kalau permohonan menyerah mereka kita tolak, mereka akan menjadi nekat, dan akan melawan sampai titik darah yang penghabisan. Tak mungkin kita bisa mengatasi kenekatan itu. Di dalam kota jumlah mereka beberapa kali lipat, tetapi semuanya akan mati. Mari kita mundur dari satu sudut tenggara, dan akan menyerang sudut barat daya. Mereka pasti akan berusaha melarikan diri tanpa melawan. Dan pada saat itulah, kita menangkap mereka."

 

 

Zhu Jian menyetujui saran ini, dan segera mengatur pasukan menyerang sudut barat daya.Seperti telah diduga, kaum pemberontak melarikan diri dipimpin oleh Han Zhong. Pasukan pemerintah menyergap mereka, dan membunuh pemimpinnya. Pengikutnya terceraiberai ke segala arah. Dua orang pemimpin pemberontak lainnya datang dengan pasukan yang besar dan kuat. Zhu Jian menarik mundur pasukannya. Gerombolan yang baru datang itu masuk ke kota Wan Cheng.

Zhu Jian membuat kubu pada jarak 10 li dari kota, dan bersiap untuk  menyerang. Saat itu pula dari arah timur tibalah serombongan pasukan infanteri dan kavaleri, dipimpin oleh Sun Jian.

 

Pasukan Infanteri, pasukan tempur darat yang berjalan kaki

 

Pasukan Kavaleri, pasukan berkuda (memakai kendaraan [lapis baja])

 

Sun Jian berwajah lebar dan cerah, dan gerakannya gesit, dan tubuhnya kekar. Ia penduduk dari Wu, keturunan Su Wuzi.

 

"Seni Berperang" karya Sunzi

 

Nama kecilnya Wen Tai. Ketika ia berusia 17 tahun, bersama ayahnya tiba di Sungai Qiantang. Mereka melihat belasan orang perampok yang baru merampok seorang saudagar, dan sedang membagi-bagi hasil rampokan di tepi sungai.

----------

Halaman 18

 

"Mari kita tangkap perampok-perampok itu," katanya kepada ayahnya. Lalu ia menggenggam pedangnya erat-erat, melompat ke tepi sungai, dan berteriak seperti seorang pemimpin memberi komando kesana kemari kepada pasukannya. Hal ini membuat para perampok mengira bahwa ada pasukan pemerintah yang akan menyergap mereka. Mereka lari dengan meninggalkan hasil rampokan. Sun Jian hanya berhasil membunuh salah seorang perampok.

Karena perbuatannya ini, ia menjadi terkenal dan diangkat menjadi perwira. Dengan bantuan pejabat setempat, ia berhasil menghimpunkan pasukan, dan membantu penumpasan kaum pemberontak yang dipimpin oleh Xu Chang. Ia menyebut dirinya sebagai Kaisar Yang Ming. Selain Xu Chang, putranya Xu Shao juga terbunuh. Untuk jasa-jasa ini, ia mendapat kenaikan pangkat yang lebih tinggi dari Kaisar.

Ketika pecah pemberontakan serban kuning, ia menghimpunkan pemuda-pemuda di desanya, termasuk beberapa diantaranya putra para saudagar, membentuk sebuah pasukan berjumlah 1.500 orang, maju ke medan laga.

 

 

Kini ia bersama pasukannya berada di tengah medan pertempuran untuk membantu Zhu Jian.

Zhu Jian menyambutnya dengan gembira, dan memerintahkannya untuk menyerang gerbang di sebelah selatan kota. Pintu gerbang lainnya pun diserang secara bertubi-tubi, tetapi gerbang di sebelah timur dibiarkan bebas, untuk memberi kesempatan para pemberontak melarikan diri.

 

Sun Jian adalah orang pertama yang memanjat tembok kota, dan membunuh 20 orang lebih pemberontak seorang diri. Para pemberontak lari, tetapi pemimpinnya Chao Hong membedal kuda menyambut Sun Jian, dengan tombak diacungkan. Sun Jian melompat dari tembok, lalu merebut tombak itu, sehingga Chao Hong jatuh terjungkal. Sambil mengendarai kuda miik Chao Hong, ia menyerang para pemberontak kesana kemari.

Kaum pemberontak di bawah pimpinan Sun Zhong mencoba menerobos pintu gerbang utara, tetapi dihadang oleh Liu Bei. Mereka patah semangat dan melarikan diri ke arah lain. Liu Bei memasang panah pada busur, dan berhasil membunuh pemimpinnya. Tidak lama kemudian tiba pula pasukan inti, dan terjadilah pembantain besar-besaran. Yang lainnya segera menyerah. Dengan demikian, keamanan dapat ditegakkan kembali di Nan Yang.

Zhu Jian membawa pasukannya kembali ke ibukota. Untuk jasa ini,

----------

Halaman 19

 

ia diangkat menjadi panglima pasukan berkuda, dan menjabat sebagai gubernur di Henan. Ia pun tidak melupakan jasa-jasa mereka yang telah membantunya.

Sun Jian mempunyai banyak kenalan berpengaruh di istana. Mereka semua menyokongnya sehingga ia mendapat pangkat baru. Sedangkan Liu Bei, hanya didukung oleh laporan dari Zhu Jian, terpaksa menunggu dengan sia-sia hadiah jabatan seperti yang lainnya. Mereka bertiga menjadi amat bersedih hati.

Suatu hari, sedang ia berjalan-jalan, Liu Bei bertemu dengan seorang pejabat istana yang bernama Zhang Jun. Ia menceritakan keluhan-keluhannya. Zhang terkejut mendengar hal ini, dan amat menyesali keteledoran ini. Pada suatu kesempatan tatap muka di istana, ia memohon kepada Kaisar untuk menganugerahi orang-orang yang berjasa dalam penumpasan pemberontakan.

Ia berkata,"Kaum Serban Kuning memberontak karena para kasim menjual jabatan dan menerima suap. Jabatan hanya diberikan kepada kawan-kawan mereka, dan hukuman bagi orang yang tidak disukai. Faktor inilah yang menyebabkan kekacauan dalam negeri. Sebab itu, lebih baik bila memenggal kepala mereka, memancangkannya di depan umum, lalu mengumumkan ke seluruh negeri bahwa mereka yang berjasa akan diberi ganjaran. Bila hal ini dilakukan, negara akan aman dan tenteram."

Tetapi para kasim dengan tegas menentang sikap itu, bahkan mengatakan bahwa pelapor ini telah menghina Baginda. Kaisar lalu memerintahkan pengawal menghukum mati Zhang Jun.

 

Setelah peristiwa itu, "Sepuluh Orang Kebiri" berunding. Salah seorang diantara mereka berkata,"Tentu masih ada orang berjasa dalam menumpas pemberontakan yang belum mendapat ganjaran."

 

Mereka lalu membuat suatu daftar yang berisi nama-nama orang yang disiapkan untuk menerima ganjaran. Di antara nama-nama itu terdapat nama Liu Bei, yang selanjutnya mendapat pangkat sebagai hakim di Distrik Anshi.

 

Setelah membubarkan pasukannya, Liu Bei bersama-sama saudaranya, disertai 20 orang pengawal, berangkat menuju Anshi untuk menjalankan tugasnya.

 

Mereka tiba di Anshi tanpa rintangan. Tindakan Liu Bei yang adil dan bijaksana dalam mengelola administrasi dan pemerintahan menyebabkan hanya dalam waktu satu bulan tidak ada lagi pelanggaran terhadap hukum. Mereka bertiga hidup rukun dan damai. Makan pada satu meja. Tidur di atas satu tempat tidur. Bila Liu Bei

----------

Halaman 20

 

sedang menjalankan tugasnya, Guan Gong dan Zhang Fei akan berdiri di belakangnya sebagai pengawal, meskipun tugas itu berlangsung sepanjang hari.

 

 

Empat bulan setelah mereka tinggal di Anshi, datanglah bencana, yaitu berupa pengurangan umum akan jumlah perwira militer yang memangku jabatan sipil. Liu Bei khawatir bahwa salah satu yang akan digeser adalah dirinya. Tidak lama kemudian, pejabat yang bertugas pun datang. Ia disambut dengan upacara kebesaran. Tetapi sambutan itu tidak mendapat balasan yang layak, kecuali dengan lambaian pecut dari atas kuda. Sikap itu membuat Guan Gong dan Zhang Fei gelisah, dan merasa bahwa sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.

Ketika pejabat tadi tiba di penginapan, ia mengambil tempat duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Liu Bei dibiarkan berdiri. Setelah menunggu sejenak, barulah ia menyapa Liu Bei.

"Hakim Liu, dari mana asalmu?"

Liu Bei menjawab,"Hamba adalah keturunan Pangeran Jing. Sejak ikut menumpas pemberontakan Serban Kuning di distrik Zhuo, serta ikut dalam beberapa pertempuran lain, hamba mendapat anugerah Kaisar berupa jabatan yang saat ini hamba pegang."

"Kau bohong tentang keturunanmu, dan keterangan tentang jasa-jasamu juga palsu," jerit sang pejabat. "Sekarang Baginda telah memerintahkan untuk memecatmu dari jabatanmu yang rendah ini." 

Liu Bei hanya dapat mohon diri sambil menggerutu. Pulang ke kantornya, ia berunding dengan adik-adiknya.

"Sikap pejabat yang kasar itu, sebenarnya, hanya untuk minta uang suap," kata mereka.

"Aku tidak pernah berdosa sedikit pun kepada rakyat, dan tidak pernah memeras rakyat, walaupun hanya sebutir gandum; dari mana pula aku dapat memberinya uang suap?"

 

 

Keesokan harinya, sang pejabat mengumpulkan pegawai rendah, dan memaksa mereka menjadi saksi bahwa atasan mereka telah menindas rakyat. Liu berkali-kali menyangkal tuduhan ini, tetapi penjaga pintu menyeret dan mengusirnya, sehingga ia tidak bisa masuk.

Ketika itu Zhang  Fei sedang minum arak menghibur diri karena kesulitan yang menimpa Liu Bei. Setelah berada dalam keadaan setengah mabuk, ia minta kudanya disiapkan. Dengan mengendarai kuda ia melalui tempat penginapan sang pejabat, dan melihat di depan pintu gerbang sekelompok orang-orang tua renta sedang menangis

----------

Halaman 21

 

tersedu-sedu. Ia menanyakan mengapa mereka menangis, dan mereka mengatakan,"Pejabat itu telah memaksa mereka memberi kesaksian dan tuduhan palsu, untuk mencelakakan Hakim Liu yang mulia. Kami datang untuk memohonkan ampun baginya, tetapi tidak diperkenankan masuk. Bahkan kami dipukuli oleh penjaga pintu."

Ucapan ini membangkitkan kegusaran Zhang Fei yang setengah mabuk, dan pada dasarnya bersifat berangasan ini. Matanya terbeliak besar-besar, dan giginya pun bergemeretakan. Dalam sekejap, ia telah melompat dari kudanya, lalu menyerbu ke dalam gedung, melewati penjaga pintu yang tak dapat menghalanginya. Di dalam ia menjumpai sang pejabat sedang duduk di kursi kebesarannya, dan para bawahan bersimpuh di kakinya.

"Penindas rakyat, perampok!" jerit Zhang Fei,"Apakah kau kenal siapa diriku?"

 

Sebelum ia dapat menjawab, Zhang Fei telah menjambak dan menyeretnya keluar penginapan. Sesaat kemudian ia telah terikat pada kayu tempat menambatkan kuda di halaman. Kemudian Fei mematahkan sebatang ranting pohon yangliu, lalu mencambuki si pejabat bertubi-tubi.

 

Pada waktu itu, Liu Bei sedang duduk sendirian merenungkan nasibnya, dan tiba-tiba ia mendengar teriakan di depan pintunya. Setelah bertanya, mereka memberitahukan bahwa Panglima Zhang telah mengikat seseorang dan mencambuknya. Dengan cepat ia keluar dan melihat siapa yang telah menjadi korban kemarahan adiknya, dan ternyata orang itu adalah sang pejabat. Ia lalu menanyakan alasan adiknya bertindak demikian.

"Kalau jahanam ini tidak kita hajar, apa yang dapat kita harapkan darinya?" kata Zhang Fei.

"Tuan yang mulia, tolonglah aku," ratap sang pejabat.

Liu Bei pada dasarnya berwatak pengasih dan penyayang, maka disuruhnya Zhang Fei melepaskan pejabat itu, serta menyuruhnya pergi.

Guan Gong datang, lalu berkata,"Kakak, karena jasamu kau hanya mendapat jabatan rendah, bahkan disini kau dihina oleh orang ini. "Semak belukar bukan tempat untuk seekor burung hong". Mari kita bunuh saja orang ini, dan pergi dari tempat ini, sampai kita dapat membuat rencana yang lebih besar." 

Tapi Liu Bei sudah puas menghukumnya dengan menggantungkan cap kebesaran pejabat itu pada lehernya sambil berkata, "Apabila

----------

 

Halaman 22

 

kudengar kau menindas rakyat, aku pasti akan membunuhmu. Kini kuampuni jiwamu, dan kukembalikan cap kebesaranmu. Pergilah dari sini."

 

 

Sang pejabat mengadu kepada bupati. Perintah dikeluarkan untuk menangkap tiga bersaudara itu, tetapi mereka telah pergi ke Dai Zhou, dan minta perlindungan kepada Liu Hui. Ia melindungi mereka karena Liu Bei masih berdarah bangsawan Han.

Kita tunda dahulu kelanjutan kisah tentang tiga bersaudara itu. Pada saat itu, "10 Orang Kebiri" telah berhasil mengambil alih seluruh kekuasaan, dan membunuh siapa saja yang berani menentang mereka. Kepada perwira-perwira yang telah berjasa dalam memadamkan pemberontakan, mereka menuntut hadiah. Dan mereka yang tidak memberi hadiah, sesuai dengan tuntutan mereka, akan digeser dari kedudukannnya. Huang Fusong dan Zhu Jian menjadi korban intrik ini karena menolak tuntutan tersebut. Sebaliknya, Kaisar mengangkat mereka menjadi jenderal kavaleri, dan 13 dari antara para kasim mendapat gelar bangsawan.

Keadaan pemerintahan semakin bobrok, tetapi rakyat hanya dapat menahan kemarahan dengan sembunyi-sembunyi. Dan di Changsa meletus pemberontakan yang dipimpin oleh Qu Xing, diikuti dengan pemberontakan-pemberontakan di tempat lainnya. Laporan yang masuk begitu banyaknya, bagaikan hujan salju layaknya, tetapi para kasim tidak mengacuhkan semua laporan itu.

Suatu hari, sedang Kaisar berpesta di salah satu taman bersama-sama dengan para kasim, tiba-tiba muncul perdana menteri, yang bernama Liu Tao, dengan wajah muram. Kaisar menanyakan masalah apa yang merisaukannya.

 

"Tuanku, bagaimana Tuanku bisa santai berpesta dengan mereka, sedangkan kerajaan berada di ambang keruntuhan?" kata Liu Tao.

"Negara aman dan damai," kata Kaisar, "apakah yang perlu dirisaukan?" Liu Tao berkata lagi, "Pemberontakan merajalela dimana-mana, membakar distrik dan kota. Semua ini karena kesalahan "10 Orang Kebiri" yang telah menjual pangkat, menindas rakyat, menindas para pangeran, dan menipu junjungan mereka. Semua orang jujur telah meletakkan jabatan. Sebentar lagi malapetaka akan menimpa kita."

Mendengar perkataan Liu Tao, para kasim segera membuka topi dan menjatuhkan diri berlutut di kaki Baginda.

"Bila Tuanku tidak menyetujui tindakan kami," mereka berkata,

----------

Halaman 23

 

"maka kami berada dalam bahaya. Kami mohon ampun dan diperkenankan pulang kampung halaman. Kami mohon diberi penggantian harta kami, yang  kami gunakan untuk membiayai anggaran militer."

Semua kasim meratap dengan sedihnya, dan Kaisar berpaling kepada menterinya, lalu berkata dengan marah,"Kau sendiri mempunyai hamba sahaya, mengapa tidak meniru seperti yang aku lakukan?"

Kaisar segera memanggil penjaga untuk menyerert Liu Tao, dan membunuhnya. Liu Tao berteriak keras-keras, "Kematian hamba takkan berarti apa-apa. Hanya sayang Dinasti Han setelah memerintah selama empat abad akan runtuh saat ini."

Pengawal menyeretnya pergi untuk melaksanakan perintah ketika seorang menteri lain menghentikan mereka dan berkata,"Berhenti! Tunggu sampai aku selesai bicara dengan Baginda."

Orang itu adalah penasihat agung Chen Tan. Ia segera menghadap Kaisar lalu berkata,"Apakah kesalahan Liu Tao sehingga Baginda menyuruh pengawal memenggalnya?" 

"Ia telah  memfitnah hamba sahayaku, dan telah menghinaku," kata Kaisar.

"Seluruh rakyat kerajaan Tuanku ingin mengerkah para kasim, akan tetapi Tuanku menghormati mereka seakan-akan mereka adalah orangtua Tuanku. Mereka semuanya tidak berguna, tetapi disanjung-sanjung. Sebenarnya Feng Xu adalah biang keladi pemberontakan yang baru saja ditumpas. Kalau Tuanku tidak segera bertindak, kerajaan akan runtuh."

"Tidak ada bukti untuk menunutut Feng," jawab Kaisar. "Apakah tidak ada seorang pun diantara para kasim yang setia?"

Chen Tan membenturkan kepalanya di tangga singgasana dan tidak mau bangkit berdiri. Kaisar semakin murka, memerintahkan pengawal menyeret, dan memenjarakan Chen Tan bersama-sama dengan Liu Tao.

 

 

Malamnya ia dibunuh oleh para kasim. Kemudian surat perintah dikeluarkan untuk mengangkat Sun Jian sebagai bupati Changsa, dengan tugas memadamkan pemberontakan.

Dalam waktu kurang dari dua bulan, ia melaporkan bahwa distrik itu telah aman. Karena jasa ini, ia diangkat menjadi raja muda di Wu Cheng. Selanjutnya Liu You diangkat menjadi hakim di You Zhou dengan tugas bergerak dari You Yang dan menindas pemberontakan Zhang Ju dan Zhang Chun. Bupati Dai Zhou merekomendasi Liu Bei

----------

Halaman 24

 

kepada Liu You. Ia menyambutnya, dan menugasi Liu Bei menumpas pemberontakan. Liu Bei bersama dua saudaranya bertempur dengan gagah berani, sehingga menggentarkan semangat para pemberontak. Salah seorang kepala pemberontak, Zhang Chun, amat kejam, sehingga anak buahnya membencinya. Akhirnya salah seorang perwira memenggal kepalanya, dan bersama dengan yang lainnya menyerahkan diri. Pemimpin pemberontak lainnya, Zhang Ju, melihat peristiwa itu menjadi putus asa dan bunuh diri.

Keamanan di You Yang dapat dipulihkan. Liu You melaporkan jasa Liu Bei dalam menumpas kaum pemberontak, dan Kaisar mengeluarkan pengampunan atas tindakannya menghina seorang pejabat. Ia bahkan diangkat menjadi pejabat di Xia Mi. Ketika Sun Jian mengungkit kembali jasa-jasa lamanya, Liu Bei diangkat sebagai panglima kavaleri, dan bertugas di Ping Yuan. (Dan kemakmuran yang diperolehnya di sini membuat Liu Bei akhirnya melupakan pengalaman pahitnya dulu. Liu You juga memperoleh kenaikan pangkat).

Pada musim panas tahun ke-6 tarikh Zhang Ping bulan ke-4 (kira-kira tahun 189 Masehi), Kaisar sakit parah. Baginda memanggil Jenderal He Jin untuk membicarakan masa depan negara.

 

He Jin sesungguhnya berasal dari keluarga tukang jagal sapi, tetapi seorang kakaknya menjadi selir kaisar dan melahirkan seorang putra yang bernama Bian. Dan karena melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi calon putera mahkota, ia diangkat menjadi permaisuri. He Jin dengan sendirinya menjadi amat berkuasa.

 

Kaisar juga mencintai seorang perempuan cantik yang bernama Wang, yang juga melahirkan seorang anak laki-laki, dan diberi nama Xie. Karena cemburu, permaisuri He telah meracuni perempuan itu dan si bayi Xie diberikan kepada Ibu Suri untuk dipelihara. Ibu Suri bernama Tong, adalah Ibu Kaisar Ling. Ia adalah istri Liu Zhang, raja muda dari Tuting. Mula-mula almarhum Kaisar Huan tidak berputra, sehingga ia mengangkat anak seorang raja muda untuk mewarisi tahta. Anak itu adalah Kaisar Ling. Setelah menjadi Kaisar, ia membawa ibu kandungnya ke istana, dan menganugerahkan pangkat Ibu Suri.

Ibu Suri itu selalu berusaha mempengaruhi anaknya agar menunjuk Xie sebagai penggantinya. Kebetulan Kaisar amat mengasihi anak itu, sehingga ia menurut apa yang dikatakan ibunya. Ketika ia jatuh sakit, salah seorang kasim berkata, "Bila Xie yang akan menjadi pewaris,

----------

Halaman 25

 

maka He Jin harus dibunuh lebih dahulu." Kaisar setuju akan usul ini, dan memerintahkan He Jin menghadap ke istana. Tapi di dekat gerbang istana, seseorang memberitahukan bahaya yang mengancam. Ia terkejut dan pulang ke rumah. Kemudian ia mengundang dan mengajak pejabat lainnya agar memihak kepadanya untuk menyingkirkan para kasim.

 

 

Di dalam pertemuan ini, Zao Cao berkata, "Pengaruh para kasim telah berlangsung selama setengah abad, dan telah berurat berakar seperti alang-alang yang tersebar ke segala penjuru. Bagaimana mungkin kita dapat memusnahkannya?"

He Jin amat marah mendengar pernyataan Zao Cao, lalu berteriak, "Orang penakut seperti kamu, mana mungkin mengerti urusan negara?" 

Di tengah pertengkaran itu, seorang utusan datang membawa berita bahwa Kaisar telah wafat. Dilaporkan juga bahwa para kasim akan merahasiakan kematian Kaisar, dan mereka telah membuat surat perintah untuk memanggil He Jin guna membicarakan masalah penggantian Kaisar; padahal sudah ditentukan Xie sebagai pengganti. Baru saja utusan itu selesai menyampaikan laporan, surat panggilan pun datang.

 

"Masalahnya sekarang adalah menobatkan pewaris yang sah," kata Zao Cao. "Masalah lain dapat menunggu."

"Siapa yang berani ikut denganku menghancurkan para kasim?" tanya He Jin.

Seorang maju ke depan, dan berkata,"Beri saya sepasukan serdadu, saya akan masuk ke istana, dan menobatkan pewaris yang sah; lalu membunuh para kasim bersama pengikutnya, untuk memulihkan keamanan."

Pembicara tadi adalah Yuan Shao yang (pada waktu itu hanya) menjabat sebagai komandan pengawal istana.

 

He Jin memberinya 5.000 orang tentara, Shao berpakaian perang yang lengkap, lalu memimpin pasukannya. He Jin dengan diiringi pembesar lainnya mengikutinya menuju istana. Di dalam ruangan tempat peti mati Kaisar disemayamkan, mereka menobatkan Bian sebagai Kaisar.

Selesai upacara semua hadirin memberi penghormatan terhadap Kaisar yang baru, Yuan Shao pergi hendak menangkap kasim Jian Shi. Karena takutnya Shi lari ke kebun istana, dan bersembunyi di antara belukar, tempat ia ditemukan dan dibunuh oleh kasim lain. Pengawalnya memihak kepada lawan. Yuan Shao menganggap bahwa

----------

Halaman 26

 

saat inilah yang paling tepat untuk membunuh semua kasim. Tetapi para kasim telah mencium bahaya, dan segera minta perlindungan kepada Ibu Suri He.

 

 

 

Mereka berkata, "Yang dahulu merencanakan untuk mencelakai adik Tuanku adalah Jian Shi seorang diri, sedangkan yang lain tidak ikut-ikut. Kini Panglima He, atas saran perwiranya, akan membunuh kami semua. Kami mohon perlindungan dari Yang Mulia."

"Jangan takut," kata Ibu Suri,"aku akan melindungi kalian."

 

Dia kemudian memanggil adiknya menghadap, dan berkata,"Kau dan aku berasal dari kalangan rakyat jelata. Nasib baik kita adalah berkat jasa-jasa para kasim. Biang keladinya, Jian Shi, telah mati, tetapi apakah kau sungguh-sungguh akan membunuh semua kasim hanya karena saran Yuan Shao?"

He Jin mematuhi perintah kakaknya, kemudian mengatakan kepada anak buahnya bahwa karena biang keladi kekacauan telah dibunuh, tidak perlu lagi mencelakakan teman-temannya.

"Basmi saja mereka sampai ke akar-akarnya," teriak Shao, "atau kelak mereka akan membalas."

"Aku telah memutuskan," jawab He Jin dengan dingin. "Tidak perlu diperpanjang lagi."

 

 

Dalam waktu beberapa hari He Jin diangkat sebagai dewan pelindung istana, dan semua kawannya menerima anugerah jabatan baru.

Permaisuri Tong memerintahkan kasim Zhang Rang dan rekan-rekannya untuk bersidang. Ia berkata,"Akulah yang mula-mula mengangkat derajat kakak He Jin. Hari ini anaknya dinobatkan sebagai kaisar, semua pembesar adalah kawannya, dan pengaruhya pun amat besar. Apa tindakan kita selanjutnya?"

Zhang Rang menjawab,"Tuanku harus mengatur negara dari 'belakang layar', anugerahi putra Kaisar Xie menjadi pangeran, beri Paman Tong Zhong pangkat yang tinggi, kemudian tempatkan ia di bidang militer. Ia pasti akan memakai tenaga kami. Tindakan itulah yang paling baik."

 

Permaisuri Tong setuju. Keesokan harinya, ia mengadakan sidang, lalu mengeluarkan dekrit seperti yang diusulkan Zhang Rang.

 

 

Ketika Permaisuri He mengetahui hal ini, ia mengadakan pesta di istana, dan mengundang saingannya. Pada waktu para hadirin sudah mulai dipengaruhi arak, ia bangkit berdiri, menawarkan secawan arak kepada saingannya, sambil berkata, "Tidak pantas bagi kita, dua orang

----------

Halaman 27

 

wanita, harus mencampuri urusan negara. Dahulu, ketika Permaisuri Lu mencampuri urusan negara, semua kaumnya dihukum mati. Kini, kita akan tetap senang tinggal di dalam istana dengan segala kebutuhan terpenuhi. Biarkanlah urusan negara diurus oleh para negarawan. Itulah sikap yang terbaik bagi kerajaan. Aku rasa Anda pun akan bersikap demikian juga." 

Mendengar perkataan itu, Permaisuri Tong menjadi amat murka. "Kau meracuni Nyonya Wang karena cemburu. Sekarang, karena anakmu yang naik tahta, dan adikmu amat berkuasa, kau dapat berkata demikian! Akan kuperintahkan agar adikmu dipenggal kepalanya, suatu hal yang amat mudah seperti aku membalik telapak tanganku."

Mendengar jawaban itu, Permaisuri He pun menjadi murka, dan berkata,"Aku berusaha bersikap baik padamu, tetapi kau menolak tawaranku."

"Kau, perempuan hina anak tukang jagal, apa yang kau ketahui tentang memerintah sebuah negara?" jerit Permaisuri Tong.

Pertengkaran semakin lama semakin hebat. Para kasim berusaha melerai, dan menganjurkan agar masing-masing pulang ke istana. Malam harinya, Permaisuri He memanggil adiknya ke istana, dan menceritakan pertengkaran yang terjadi hari itu. He Jin pergi berunding dengan para pembesar istana.

 

Keesokan harinya, dalam sidang diputuskan bahwa karena Permaisuri Tong adalah upeti seorang pangeran dari perbatasan, maka diputuskan bahwa dia tidak berhak lagi mendiami istananya. Ia akan dipindahkan ke He Jian, dan harus segera berangkat meninggalkan Ibu Kota. Sementara pengawal untuk memindahkan Permaisuri Tong disiapkan, pengawal lain menjaga ketat tempat kediaman adiknya, Tong Zhong. Mereka juga menyita cap kekuasaannya. Panglima Tong mengetahui bahwa segalanya telah berakhir, membunuh diri di dalam kamar pribadinya. Pengikutnya yang setia datang menangisi majikannya, tetapi semuanya diusir oleh para penjaga.

Karena telah kehilangan sang pelindung, dua orang kasim segera mengirimkan hadiah yang besar kepada adik He Jin, yang bernama He Miao, dan juga kepada ibunya.

 

Mereka kemudian dijanjikan akan mendapat perlindungan dari Ibu Suri, sehingga mereka mendapat kesempatan lagi untuk bertugas di istana.

Dua bulan kemudian, utusan rahasia He Jin membunuh Permaisuri Tong di tempat kediamannya, dan jenazahnya dibawa ke Ibu Kota

----------

Halaman 28

 

untuk dimakamkan. He Jin berpura-pura sakit untuk tidak menghadiri upacara pemakaman.

Pada suatu hari Yuan Shao melaporkan kepada He Jin bahwa dua orang kasim, Zhang Rang dan Duan Gui, sedang menyebarkan berita bahwa He Jin adalah penyebab kematian Permaisuri, dan sedang berusaha untuk merebut tahta. Yuan mendesak He Jin bahwa berita ini adalah alasan yang kuat untuk dapat menyingkirkan mereka. "Ini adalah kesempatan yang turun dari langit." Tetapi He Jin menjawab, "Aku akan pikir-pikir dulu."

 

Diam-diam pelayan Zhang Rang dan Duan Gui memberitahukan percakapan tersebut. Mereka lalu mengirim hadiah lagi kepada He Miao, yang kemudian mendatangi kakaknya, Permaisuri He, dan berkata, "Panglima seharusnya adalah pendukung istana Kaisar, tetapi ia tidak bersikap alim dan bijaksana, melainkan hanya memikirkan pembunuhan saja. Kalau ia membunuh para kasim tanpa alasan, maka tindakan itu akan menimbulkan pemberontakan."

 

 

Tidak lama berselang, He Jin menghadap kakaknya dan mengatakan bahwa ia akan membunuh para kasim. Kakaknya menentang rencana tersebut. Ia mengatakan bahwa para kasim mengerjakan segala urusan di dalam istana,. "Mereka adalah hamba sahaya yang paling lama. Membunuh hamba yang lama setelah majikan mereka mati adalah tindakan yang tidak menaruh hormat kepada pendiri dinasti." Karena He pada waktu itu sedang kalut pikirannya, ia hanya mengiyakan kakaknya, lalu pergi.

"Bagaimana?" tanya Yuan Shao, ketika bertemu dengan He.

"Beliau tidak mengijinkan. Apa tindakan kita selanjutnya?"

"Kumpulkan serdadu, lalu perintahkan menyerbu istana dan membunuh para kasim. Bila hal itu terjadi, Permaisuri mau tidak mau akan menyetujui."

"Sebuah rencana yang hebat," kata He Jin.

Maka, dikumpulkannya serdadu untuk menyerbu Ibu Kota. 

Tetapi seorang pembesar lain, yang bernama Chen Li, berkata,"Jangan bertindak sembarangan! Pepatah mengatakan 'Menutup mata lalu menangkap burung layang-layang adalah membodohi diri sendiri'. Kalau untuk urusan kecil seperti itu Anda tidak berhasil, bagaimana Anda akan mengurus urusan negara yang lebih besar? Dengan kekuasaan yang Anda miliki dan pasukan di bawah perintah, Anda dapat berbuat seenaknya. Tetapi menggunakan kekuasaaan sewenang-wenang terhadap para kasim sama saja dengan memakai api geledek

----------

Halaman 29

 

hanya untuk menyalakan tungku dan membakar rumput. Bertindaklah dengan tepat, gunakan kekuasaan pada tempatnya, maka semua orang akan mendukung Anda. Tetapi apabila Anda menghimpunkan kekuatan menyerbu Ibu Kota, berarti Anda mengumpulkan orang gagah berani pada satu tempat. Setiap orang mempunyai ambisi, sama seperti menempatkan diri sendiri dalam kekuasaan orang lain. Anda hanya akan memperoleh kegagalan dan kekacauan, tidak lain."

"Pandangan seorang kutu buku," kata He Jin dengan tersenyum.

Tiba-tiba salah seorang di antara mereka bertepuk tangan sambil berteriak, "Persoalan ini sama gampangnya dengan membalikkan telapak tangan, kenapa harus berdebat lagi?" Orang itu tak lain adalah Zao Cao.

----------

Bab 3

 

Kisah Tiga Negara